DRAMA PENIPUAN DI KOTA KUPANG: Janji Manis Oknum Dinkes Berujung Teror, Korban Justru Diposisikan Sebagai Pesakitan.

NTTBacarita, ​KUPANG – Sebuah skandal moral dan dugaan penipuan berskala besar kini tengah mengguncang Kota Kupang. Seorang oknum pegawai di Dinas Kesehatan (Dinkes) inisial "F" Kota Kupang diduga kuat telah memanfaatkan jabatan dan status sosialnya untuk mengeruk keuntungan pribadi dengan cara yang sangat keji.

​Bukan sekadar rupiah yang menguap, melainkan sebuah kepercayaan tulus yang dicabik-cabik tanpa ampun.
​Modus Operandi: Topeng Dinas dan Janji Palsu
​Korban, sebut saja Bunga, kini hanya bisa meratapi nasibnya setelah terperangkap dalam lingkaran setan manipulasi sang oknum. Dengan rangkaian alasan yang tersusun rapi—mulai dari meminjam uang untuk biaya berangkat tugas kedinasan, uang muka pembelian rumah mewah, hingga cicilan mobil pribadi—pelaku berhasil menguras harta benda korban.
​Tidak hanya uang tunai, sejumlah perhiasan emas berharga milik Bunga pun ikut amblas, berpindah tangan dengan dalih "pinjaman sementara".

​Janji tinggal janji. Hari berganti minggu, bulan berganti tahun, iktikad baik yang dinanti Bunga tak kunjung datang. Alih-alih mendapatkan kembali haknya, Bunga justru dihadapkan pada kenyataan pahit yang memutarbalikkan logika.

​Dunia Terbalik: Korban yang Diintimidasi
​Drama ini kian tragis ketika korban menuntut haknya. Sang oknum dinkes, yang seharusnya menjadi pelayan masyarakat yang berintegritas, justru melempar ancaman dan teror psikologis. Lewat intimidasi yang sistematis, posisi Bunga kini sengaja disudutkan. Ironis, sang korban kini justru seolah-olah diposisikan sebagai tersangka dalam pusaran kasus ini, sementara pelaku melenggang bebas tanpa beban.
​"Uang dan emas hilang, kini ketenangan hidup pun dirampas. Mengapa korban yang mencari keadilan justru diancam?" ujar sebuah sumber terdekat korban yang enggan disebutkan namanya.

​Publik Menanti Ketegasan: Sebelum Nasi Menjadi Bubur
​Kini, bola panas menggelinding liar di ruang publik. Masyarakat Kota Kupang menanti dengan geram: Di mana ketegasan Kepala Dinas Kesehatan tempat oknum tersebut mengabdi? Akankah institusi sekorup ini melindungi oknum yang mencoreng nama baik korps, ataukah akan mengambil tindakan pemecatan dan sanksi hukum yang tegas?
​Tak hanya institusi, Publik mendesak agar pihak keluarga segera mengambil langkah cepat, turun tangan menunjukkan niat baik untuk menyelesaikan kerugian yang dialami Bunga.

​Peringatan keras ini menggema: Langkah penyelesaian harus diambil sesegera mungkin. Jangan menunggu hingga hukum bertindak lebih jauh, atau hingga amarah publik tak lagi terbendung.
​Sebab, jika nasi telah menjadi bubur, segala bentuk penyesalan di kemudian hari tidak akan lagi memiliki arti. Kasus ini bukan lagi sekadar utang-piutang, melainkan ujian bagi keadilan di Kota Kupang. 

Komentar