Wujudkan Kedaulatan Pangan: Wakil Presiden RI Resmikan Agroeduwisata GMIT Tarus sebagai Model Transformasi Ekonomi Jemaat.
NTTBacarita, Kupang – Di tengah ketidakpastian kondisi ekonomi global dan tantangan krisis pangan dunia saat ini, Majelis Sinode GMIT melakukan langkah strategis melalui penguatan sektor riil. Sebagai wujud komitmen iman dalam aspek pemberdayaan ekonomi, Sinode GMIT secara resmi menghadirkan kawasan Agroeduwisata GMIT di Desa Mata Air, Kupang Tengah. Inisiatif ini merupakan upaya diakonia transformatif untuk mengubah aset gereja menjadi pusat produktivitas yang berdampak langsung pada kesejahteraan jemaat dan masyarakat luas.
Pengembangan kawasan ini lahir dari sinergi kolaboratif antara Sinode GMIT dengan Politeknik Pertanian (Politani) Negeri Kupang, Pemerintah Provinsi NTT, Pemerintah Kabupaten Kupang, Bank Indonesia, dan Bulog NTT. Ketua Majelis Sinode GMIT, Pdt. Semuel B. Pandie, menegaskan bahwa kolaborasi ini adalah solusi konkret gereja dalam mendukung program swasembada pangan pemerintah.
“Kegiatan ini bertujuan untuk memperkuat sinergi kolaborasi menuju misi pelayanan diakonia transformatif bagi jemaat. Damparit yang dibangun merupakan keberpihakan atau wujud diakonia kepada jemaat untuk menjadikan pertanian sebagai penyanggah utama kehidupan,” ungkap Pdt. Semuel B. Pandie.
Kerja sama ini diperkuat dengan pendampingan teknis secara intensif dari akademisi. Kepala Pusat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (P3M) Politani Kupang, Cardial L.O. Leo Penu, S.Pt., M.Sc., Ph.D., menjelaskan bahwa fokus pengabdian masyarakat tahun 2025 diarahkan pada tema “Agro-Eduwisata Berbasis Pemberdayaan Komunitas”. Pendekatan terpadu ini memberikan dampak maksimal melalui penerapan praktik pertanian ilmiah, seperti sistem tanam legowo dan pemupukan hayati yang ramah lingkungan.
Kawasan Agroeduwisata Tarus mengelola potensi lahan sawah seluas 5,38 hektare yang dikerjakan oleh 32 anggota Kelompok Tani Sulamanda di bawah pimpinan Matheus Ukat. Untuk mengatasi kendala air saat musim kemarau, telah dibangun damparit sepanjang 30 meter dan lebar 15 meter yang mampu menampung air untuk irigasi sekaligus difungsikan sebagai kolam pemancingan. Kolam tersebut berisi ikan nila, patin, mas dan lele.
Hasil produksi dari lahan ini menunjukkan angka yang menjanjikan. Ketua Kelompok Tani Sulamanda, Matheus Ukat, melaporkan bahwa hasil panen mencapai 9,3 ton gabah kering giling dengan estimasi tiga kali musim tanam mencapai 150 ton. Selain sawah, terdapat pula lahan seluas 30 are yang dikelola oleh Kelompok Wanita Tani (KWT) Cinta Kasih untuk budi daya kangkung, sawi, bayam, dan bawang.
Puncak dari pengembangan aset ini ditandai dengan peresmian langsung oleh Wakil Presiden Republik Indonesia pada Senin, 6 April 2026. Peresmian ini dirangkaikan dengan panen simbolis dan pembukaan kolam pemancingan sebagai tanda dimulainya operasional kawasan wisata edukasi tersebut.
Sekretaris Sinode GMIT, Pdt. Lay Abdi K. Wenyi, menyampaikan harapannya agar kehadiran pimpinan negara dalam peresmian ini dapat memberikan dampak yang luas, baik secara nasional maupun internasional. Beliau menekankan bahwa tempat ini harus menjadi magnet baru bagi masyarakat untuk belajar sekaligus berwisata.
“Pada perayaan paskah, kita berbicara tentang aspek spiritualitas kebangkitan Kristus, tetapi kita juga berbicara tentang kebangkitan pertanian, perikanan, dan peternakan di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang tidak menentu. Kita ingin mengirim pesan ini kepada dunia,” tegas Pdt. Lay Abdi K. Wenyi.
Sebagai informasi penutup, kawasan Agroeduwisata GMIT Tarus kini juga difungsikan sebagai lahan praktik lapangan bagi siswa SMA Kristen Tarus Tengah. Melalui keberadaan rumah pertemuan yang menjadi rumah edukasi, lokasi ini diharapkan mampu menurunkan angka kemiskinan dan stunting di NTT, sekaligus menjadi pemasok utama bagi program Dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) di Yayasan Alfa Omega.
Komentar
Posting Komentar